Perkembangan Bahasa Pada Anak

Al-Ghazali ra dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumuddin telah menyebutkan: “Perlu diketahui bahwa jalan untuk melatih anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari yang lainnya”. Anak merupakan amanat ditangan kedua orang tuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan (dalam lingkungan rumah tangga dan lingkungan sosial), niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan (dalam lingkungan rumah tangga dan lingkungan sosial) serta ditelantarkan, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan berdampak sangat buruk bagi perkembangan baik fisik, mental, maupun spiritual sang anak.

Orang tua berkewajiban memelihara anak-anaknya dengan cara mendidik, menanamkan budi pekerti yang baik, mengajarinya akhlak-akhlak yang mulia melalui keteladanan dari orang tuanya, dan juga berusaha memenuhi kebutuhan anak baik lahir maupun batin secara proporsional sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi anak. Mendidik dan memberikan tuntunan merupakan sebaik-baik hadiah dan perhiasan paling indah yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Sudah menjadi keharusan bagi orang tua dan pendidik untuk bekerja bersama-sama memberikan kontribusi secara aktif dan positif dalam membentuk kualitas anak yang cerdas baik secara intelektual, emosional, maupun spiritualnya.

Perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang seharusnya tidak luput juga dari perhatian para pendidik pada umumnya dan orang tua pada khususnya.  Pemerolehan bahasa oleh anak-anak merupakan prestasi manusia yang paling hebat dan menakjubkan.Oleh sebab itulah masalah ini mendapat perhatian besar. Pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak lama. Pada saat itu kita telah mempelajari banyak hal mengenai bagaimana anak-anak berbicara, mengerti, dan menggunakan bahasa, tetapi sangat sedikit hal yang kita ketahui mengenai proses aktual perkembangan bahasa.

  1. A. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Secara Umum

Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tanda atau symbol. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai cara berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa.

Bahasa adalah simbolisasi dari sesuatu idea atau suatu pemikiran yang ingin dikomunikasikan oleh pengirim pesan dan diterima oleh penerima pesan melalui kode-kode tertentu baik secara verbal maupun nonverbal. Bahasa digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara yang mengacu pada simbol verbal.

Selain itu, bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural, dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda.

Tahapan-tahapan Umum Perkembangan Kemampuan Berbahasa Seorang Anak, Yaitu:

  • Reflexsive Vocalization

Pada usia 0-3 minggu bayi akan mengeuarkan suara tangisan yang masih berupa refleks. Jadi, bayi menangis bukan karena ia memang ingin menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari.

  • Babling

Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa lapar atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan keinginan atau perasaan si bayi.

  • Lalling

Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar suara-suara namun belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 s/d 6 bulan sehingga ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang diulang-ulang, seperti: “ba….ba…, ma..ma….

  • Echolalia

Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan ia mulai meniru suara-suara yang di dengar dari lingkungannya, serta ia juga akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta sesuatu.

  • True Speech

Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu usianya sekitar 18 bulan atau biasa disebut batita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.

  1. B. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Menurut Beberapa Ahli

  • Lundsteen, membagi perkembangan bahasa dalam 3 tahap, yaitu:

1. Tahap pralinguistik
–  Pada usia 0-3 bulan, bunyinya di dalam dan berasal dari tenggorok.
–  Pada usia 3-12 bulan, banyak memakai bibir dan langit-langit, misalnya ma, da, ba.

2. Tahap protolinguitik
– Pada usia 12 bulan-2 tahun, anak sudah mengerti dan menunjukkan alat-alat tubuh. Ia mulai berbicara beberapa patah kata (kosa katanya dapat mencapai 200-300).
3. Tahap linguistik
– Pada usia 2-6 tahun atau lebih, pada tahap ini ia mulai belajar tata bahasa dan perkembangan kosa katanya mencapai 3000 buah.

  • Bzoch  membagi tahapan perkembangan bahasa anak dari lahir sampai usia 3 tahun dalam empat stadium, yaitu:
  1. 1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik

Terjadi pada umur 0-3 bulan dari periode lahir sampai akhir tahun pertama. Bayi baru lahir belum bisa menggabungkan elemen bahasa baik isi, bentuk, dan pemakaian bahasa. Selain belum berkembangnya bentuk bahasa konvensional, kemampuan kognitif bayi juga belum berkembang. Komunikasi lebih bersifat reflektif daripada terencana. Periode ini disebut prelinguistik. Meskipun bayi belum mengerti dan belum bisa mengungkapkan bentuk bahasa konvensional, mereka mengamati dan memproduksi suara dengan cara yang unik.

Klinisi harus menentukan apakah bayi mengamati atau bereaksi terhadap suara. Bila tidak, ini merupakan indikasi untuk evaluasi fisik dan audiologi.

Selanjutnya, intervensi direncanakan untuk membangun lingkungan yang menyediakan banyak kesempatan untuk mengamati dan bereaksi terhadap suara.
2. Kata – kata pertama : transisi ke bahasa anak

Terjadi pada umur 3-9 bulan. Salah satu perkembangan bahasa utama milestone adalah pengucapan kata-kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama, berlanjut sampai satu setengah tahun saat pertumbuhan kosa kata berlangsung cepat, juga tanda dimulainya pembetukan kalimat awal. Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya kontrol, dan interpretasi emosional di periode ini akan memberi arti pada kata-kata pertama anak.

Arti kata-kata pertama mereka dapat merujuk ke benda, orang, tempat, dan kejadian-kejadian di seputar lingkungan awal anak.
3. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal.

Terjadi pada umur 9-18 bulan. Bentuk kata-kata pertama menjadi banyak dan dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif dan produksi kata-kata berlangsung cepat pada sekitar umur 18 bulan. Anak mulai bisa menggabungkan kata benda dengan kata kerja yang kemudian menghasilkan sintaks. Melalui interaksinya dengan orang dewasa, anak mulai belajar mengkonsolidasikan isi, bentuk, dan pemakaian bahasa dalam percakapannya. Dengan semakin berkembangnya kognisi dan pengalaman afektif, anak mulai bisa berbicara memakai kata-kata yang tersimpan dalam memorinya. Terjadi pergeseran dari pemakaian kalimat satu kata menjadi bentuk kata benda dan kata kerja.
4. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa.

Terjadi pada umur 18-36 bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan perkembangan kognitif menjadi semakin dalam. Anak mulai berpikir konseptual, mengkategorikan benda, orang, dan peristiwa serta dapat menyelesaikan masalah fisik. Anak terus mengembangkan pemakaian bentuk fonem dewasa

Perkembangan bahasa pada anak dapat dilihat juga dari pemerolehan bahasa menurut komponen-komponennya, yaitu:

  1. 1. Perkembangan Pragmatik

Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu buatnya.
-Pada usia 3 minggu, bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara, dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial.

-Pada usia 12 minggu, mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara balasan bila ibunya memberi tanggapan.

-Pada usia 2 bulan, bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya.

-Pada usia 5 bulan, bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari bentuk ekspresi wajah. -Pada usia 6 bulan, bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehinga komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi, dan benda-benda.

-Pada usia 7-12 bulan, anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku kata. -Pada usia 2 tahun,  anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan mampu merangkai kalimat dua kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku ibu yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik baru.

-Lewat umur 3 tahun, anak mulai berdialog lebih lama sampai beberapa kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai mampu mempertahankan topik yang selanjutnya mulai membuat topik baru. Hampir 50 persen anak 5 tahun dapat mempertahankan topik melalui 12 kali giliran. Sekitar 36 bulan, terjadi peningkatan dalam keaktifan berbicara dan anak memperoleh kesadaran sosial dalam percakapan.

Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara menjadi jelas, tersusun baik dan teradaptasi baik untuk pendengar. Sebagian besar pasangan berkomunikasi anak adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Saat anak mulai membangun jaringan sosial yang melibatkan orang diluar keluarga, mereka akan memodifikasi pemahaman diri dan bayangan diri serta menjadi lebih sadar akan standar sosial. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh bermakna pada proses belajar berbahasa. Ibu memegang kontrol dalam membangun dan mempertahankan dialog yang benar. Ini berlangsung sepanjang usia pra sekolah. Anak berada pada fase mono dialog, percakapan sendiri dengan kemauan untuk melibatkan orang lain. Monolog kaya akan lagu, suara, kata-kata tak bermakna, fantasi verbal dan ekspresi perasaan.

  1. 2. Perkembangan Semantik

Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik, maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang pesat pada masa prasekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan terjadi penambahan lima kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun. Pemahaman kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi strategi pemetaan yang cepat diusia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan rujukannya. Pemetaan yang cepat adalah langkah awal dalam proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya secara bertahap anak akan mengartikan lagi informasi-informasi baru yang diterima. Definisi kata benda anak usia pra sekolah meliputi properti fisik seperti bentuk, ukuran dan warna, properti fungsi, properti pemakaian, dan lokasi. Definisi kata kerja anak prasekolah juga berbeda dari kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar.

Anak prasekolah dapat menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, untuk apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses. Anak akan mengembangkan kosa katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya. Begitu kosa kata berkembang, kebutuhan untuk mengorganisasikan kosa kata akan lebih meningkat dan beberapa jaringan semantik atau antar relasi akan terbentuk.

  1. 3. Perkembangan Sintaksis


Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata, berbeda dengan masa “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut masa holofrastis. Kalimat satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin kita menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut. Peralihan dari kalimat satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap. Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata memberi makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda. Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun dan mencapai puncaknya pada akhir usia 2 tahun.

  1. 4. Perkembangan Morfologi

Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan rata-rata yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan, mean length of utterance (MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada anak yang berbahasa Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan usia dan merupakan prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa. Dari usia 18 bulan sampai 5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan morfem mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa sumber yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya merupakan Bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia.

  1. 5. Perkembangan Fonologi

Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode bahasa. Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia prasekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk membedakan makna. Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan vokal dan konsonan. Bahkan dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV) atau konsonan-vokal-konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan asimilasi dan substitusi sampai pada persepsi dan produksi suara.

  1. C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anak dalam Berbahasa

Ada tiga faktor paling signifikan yang mempengaruhi anak dalam berbahasa, yaitu  biologis, kognitif,dan linkungan

1. Evolusi Biologi

Evolusi biologis menjadi salah satu landasan  perkembangan bahasa. Mereka menyakini bahwa evolusi biologi membentuk manusia menjadi manusia linguistik. Noam Chomsky (1957) meyakini bahwa  manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Ia menegaskan bahwa setiap anak mempunyai language acquisition device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa (critical-period). Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami seumur hidup. Selain itu, adanya periode penting dalam mempelajari bahasa  bisa dibuktikan salah satunya dari aksen orang dalam berbicara. Menurut teori ini, jika orang berimigrasi setelah berusia 12 tahun kemungkinan akan berbicara bahasa negara yang baru dengan aksen asing pada sisa hidupnya, tetapi kalau orang berimigrasi sebagai anak kecil, aksen akan hilang ketika bahasa baru akan dipelajari (Asher & Gracia, 1969).
2. Faktor kognitif

Individu merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada perkembangan bahasa anak. Para ahli kognitif juga menegaskan bahwa kemampuan anak berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya (Piaget,1954). Tahap awal perkembangan intelektual anak terjadi dari lahir sampai berumur 2 tahun. Pada masa itu anak mengenal dunianya melalui sensasi yang didapat dari inderanya dan membentuk persepsi mereka akan segala hal yang berada di luar dirinya. Misalnya, sapaan lembut dari ibu/ayah ia dengar dan belaian halus, ia rasakan, kedua hal ini membentuk suatu simbol dalam proses mental  anak. Perekaman sensasi  nonverbal (simbolik) akan berkaitan dengan memori asosiatif yang nantinya akan memunculkan suatu logika. Bahasa simbolik itu merupakan bahasa yang personal dan setiap bayi pertama kali berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa simbolik. Sehingga sering terjadi hanya ibu yang mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya dengan melihat/mencermati bahasa simbol yang dikeluarkan oleh anak. Simbol yang dikeluarkan anak dan dibahasakan oleh ibu itulah yang nanti membuat suatu asosiasi, misalnya saat bayi lapar, ia menangis dan memasukkan tangan ke mulut, dan ibu membahasakan, “lapar ya.. mau makan?”

3. lingkungan luar

Sementara itu, di sisi lain proses penguasaan bahasa tergantung dari stimulus dari lingkungan. Pada umumnya, anak diperkenalkan bahasa sejak awal perkembangan mereka, salah satunya disebut motherse, yaitu cara ibu atau orang dewasa, anak belajar bahasa melalui proses imitasi dan perulangan dari orang-orangdisekitarnya.

Bahasa pada bayi berkembang melalui beberapa tahapan umum:

  • mengoceh (3-6 bulan)
  • kata pertama yang dipahami (6-9 bulan)
  • instruksi sederhana yang dipahami (9-12 bulan)
  • kata pertama yang diucapkan (10-15 bulan)
  • penambahan dan penerimaan kosa kata (lebih dari 300 kata pada usia 2 tahun).
  • tiga tahun ke depan kosa kata akan berkembang lebih pesat lagi

Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang baik. Tiga faktor diatas saling mendukung untuk menghasilakan kemampuan berbahasa maksimal. Orang tua, khususnya, harus memberikan stimulus yang positif pada pengembangan keterampilan bahasa pada anak, seperti berkomunikasi pada anak dengan kata-kata yang baik dan mendidik, berbicara secara halus, dan sebisa mungkin membuat anak merasa nyaman dalam suasana kondusif rumah tangga yang harmonis, rukun, dan damai. Hal tersebut dapat menstimulus anak untuk bisa belajar berkomunikasi dengan baik karena jika anak distimulus secara positif maka akan mungkin untuk anak merespon secara positif pula.

D.    Pengaruh Pola Asuh terhadap Perkembangan Bahasa Anak

Secara mentali, pemerolehan bahasa bisa dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan. Sang ibu bisa mengajak bayi berkomunikasi tentang hal yang positif. Kontak batin antara ibu dan janin akan tercipta dengan baik bila kondisi psikis ibu dalam keadaan stabil. Keharmonisan yang terjalin lewat komunikasi bisa memengaruhi kejiwaan anak. Orangtua bisa mengajak anak bercerita tentang kebesaran Sang Pencipta dan alam ciptaan-Nya; mengenalkannya pada kicau burung, kokok ayam, rintik hujan, desir angin; memperdengarkan Kalam Ilahi atau membacakan kisah-kisah bijak.

Yudibrata dkk. (1998: 65-72) menjelaskan bahwa selama bulan-bulan pertama pascalahir atau sebelum seorang anak mempelajari kata-kata yang cukup untuk digunakan sebagai sarana berkomunikasi, anak secara kreatif terlebih dahulu akan menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara (preespeech). Keempat prabicara itu adalah tangisan, ocehan/celoteh/meraban, isyarat, dan ungkapan emosional. Menurut para pakar, perkembangan pemerolehan bahasa pada anak sangat berhubungan dengan kematangan neuromoskularnya yang kemudian dipengaruhi oleh stimulus yang diperolehnya setiap hari (Yudibrata, 1998: 72-73). Awalnya, tidak ada kontrol terhadap pola tingkah laku termasuk tingkah laku verbalnya. Vokal anak dan otot-otot bicaranya bergerak secara refleks. Pada bulan-bulan pertama, otaknya berkembang dan mengatur mekanisme saraf sehingga gerakan refleks tadi sudah dapat dikontrol. Refleks itu berhubungan dengan gerakan lidah atau mulut. Misalnya, anak akan mengedipkan mata kalau melihat cahaya yang berubah-ubah atau bibirnya akan bergerak-gerak ketika ada sesuatu disentuhkan ke bibirnya. Selanjutnya, dalam rangka memerikan perkembangan pemerolehan bahasa, Stork dan Widdowson (dalam Yudibrata, 1998: 73) membedakan antara kematangan menyimak (receptive language skills) dan kematangan mengeluarkan bunyi bahasa atau berbicara (expressive language skills). Kematangan menyimak terjadi lebih dahulu daripada kematangan berbicara meskipun dalam perkembangan selanjutnya kedua kematangan ini saling berhubungan.

Pada awal kelahirannya, anak belum dapat membalas stimulus yang berasal dari manusia. Seiring dengan berfungsinya alat artikulasi, yakni ketika anak sudah mulai berceloteh dengan bunyi bilabial seperti [m] untuk ma-ma dan [p] untuk pa-pa atau [b] untuk ba-ba, orangtua sudah bisa melakukan interaksi bahasa dengan anak. Satu hal yang perlu diingat, ma-ma dan pa-pa sebagai celotehan anak bukan merujuk pada makna kata secara harfiah yang berarti ibu dan ayah, melainkan karena semata-mata bunyi konsonan bilabial dan vokal [a] adalah bunyi yang mudah dikuasai pada saat permulaan berujar. Dari keterampilan ini bisa terjalin suasana yang lebih komunikatif antara orangtua dan anak yang berdampak pada perkembangan selanjutnya. Dampaknya bisa positif bisa juga negatif. Semakin baik stimulus yang diberikan orangtua, semakin positif respon yang dimunculkan anak. Untuk melatih keterampilan menyimak, orangtua bisa menggunakan metode simak-dengar dengan menyuguhi anak cerita yang disukainya. Penceritaan langsung tanpa menggunakan buku sekali-kali perlu dilakukan untuk perubahan suasana. Bercerita langsung dengan kata-kata sendiri yang dimengerti anak akan memberi efek lebih pada penceritaannya. Kegiatan bercerita ini hendaknya dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu (bahasa pertama anak).

Keterampilan menyimak akan berdampak pada keterampilan berbicara. Stimulus orangtua yang berupa data simakan bagi anak bisa direspon dengan metode ulang-ucap. Metode ini akan menunjukkan daya serap anak terhadap cerita atau ujaran orangtua. Pada tahapan ini, orangtua sebaiknya mengubah posisi dari posisi pencerita menjadi pendengar yang baik. Biarkan anak bercerita dengan lugas menurut pemahamannya. Ini bisa membantu anak dalam proses berbicara. Orangtua jangan menuntut anak untuk bercerita sesuai dengan gaya penceritaan orangtua.

Hal itu akan membuat jiwa anak tertekan dan terhambat daya kreativitasnya dalam berbahasa. Terkadang anak ingin berbagi cerita tentang suatu hal yang baru dialami atau didapatinya dan ia akan sangat senang jika orangtuanya mau meluangkan sedikit waktu untuk duduk bersamanya dan mendengarkan celoteh riangnya. Namun, ada kalanya anak enggan bercerita sama sekali. Jika ini terjadi, jangan paksa anak untuk bercerita. Kondisi psikis anak tidak selalu dalam keadaan yang stabil. Seringkali timbul sensitivitas yang memengaruhi sisi kejiwaannya sehingga muncul perasaan kesal, marah, atau benci pada sesuatu hal. Dialog atau komunikasi interpersonal antara orangtua dan anak bisa menjadi alternatif solusi.

Pola asuh seperti dipaparkan di atas akan berhasil bilamana orangtua mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa anak. Para ahli sepakat bahwa pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, perjalanan pemerolehan bahasa seorang anak akan sangat bergantung pada lingkungan bahasa anak tersebut (Yudibrata, 1998: 65). Sebelum anak memasuki lingkungan sosial yang lebih luas, masa bermain dan bersekolah, lingkungan keluarga seyogianya bisa menjadi arena yang menyenangkan bagi proses perkembangan anak. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orangtua adalah guru pertama yang bisa mengantar anak menuju gerbang pendidikan formal. Sebagai guru, orangtua memiliki andil yang besar dalam pendidikan anaknya, baik dalam segi waktu, materi, dan tenaga. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di lingkungan rumah merupakan hal penting bagi proses perkembangan anak. Proses ini semestinya tidak terhambat oleh masalah finansial. Yang penting, bagaimana orangtua membuat kondisi rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Sesuai dengan nalurinya, anak senantiasa ingin mengetahui segala hal dan mencoba sesuatu yang baru. Pemberian stimulus akan memengaruhi perubahan perilaku anak. Stimulus yang diberikan orangtua akan terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap anak. Jika orangtua menginginkan anaknya santun berbahasa, maka berikan stimulus yang positif. Setiap aktivitas yang ada dan terjadi di lingkungan rumah merupakan rangkaian dari proses pemerolehan yang sifatnya berkala dan berkesinambungan. Dalam hal ini orangtua berperan sebagai motor penggerak yang memegang kendali pertama dan utama dalam perkembangan bahasa anak melalui (salah satunya) pola asuh yang mendidik.

  1. E. Gangguan Perkembangan Bahasa pada Anak

Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab terhambatnya tumbuh-kembang anak yang sering ditemui. Adapun gangguan yang sering dikeluhkan orangtua yaitu keterlambatan bicara. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5-10 % pada anak sekolah. Anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara dan harus berkonsultasi dengan ahli, bila sampai usia 12 bulan sama sekali belum mengeluarkan ocehan atau babbling, sampai usia 18 bulan belum keluar kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan berbagai cara, terlihat kesulitan mengatakan beberapa kata konsonan, seperti tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan, serta terlihat berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngiler atau raut muka berubah. Penyebab keterlambatan bicara sangat luas dan banyak. Mulai yang bisa membaik hingga yang sulit dikoreksi. Semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebu.

Ada beberapa gangguan yang perlu diperhatikan orangtua:


1.Disfasia

Adalah gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan kemampuan anak seharusnya. Ditengarai gangguan ini muncul karena adanya ketidaknormalan pada pusat bicara yang ada di otak. Anak dengan gangguan ini pada usia setahun belum bisa mengucapkan kata spontan yang bermakna, misalnya mama atau papa. Kemampuan bicara reseptif (menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuan bicara ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan. Karena organ bicara sama dengan organ makan, maka biasanya anak ini mempunyai masalah dengan makan atau menyedot susu dari botol.

2.Gangguan disintegratif pada kanak-kanak (Childhood Diintegrative Disorder/CDD)
Pada usia 1-2 tahun, anak tumbuh dan berkembang dengan normal, kemudian kehilangan kemampuan yang telah dikuasainya dengan baik. Anak berkembang normal pada usia 2 tahun pertama seperti kemampuan komunikasi, sosial, bermain dan perilaku. Namun, kemampuan itu terganggu sebelum usia 10 tahun, yang terganggu di antaranya adalah kemampuan bahasa, sosial, dan motorik.


3.Sindrom Asperger
Gejala khas yang timbul adalah gangguan interaksi sosial ditambah gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan, dan aktivitas. Anak dengan gangguan ini mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi sosial. Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi nonverbal (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap badan), tidak bisa bermain dengan anak sebaya, kurang menguasai hubungan sosial dan emosional.

4.Gangguan Multisystem Development Disorder (MSDD)
MSDD digambarkan dengan ciri-ciri mengalami problem komunikasi, sosial, dan proses sensoris (proses penerimaan rangsang indrawi). Ciri-cirinya yang jelas adalah reaksi abnormal, bisa kurang sensitif atau hipersensitif terhadap suara, aroma, tekstur, gerakan, suhu, dan sensasi indera lainnya. Sulit berpartisipasi dalam kegiatan dengan baik, tetapi bukan karena tertarik, minat berkomunikasi dan interaksi tetap normal tetapi tidak bereaksi secara optimal dalam interaksinya. Ada masalah yang terkait dengan keteraturan tidur, selera makan, dan aktivitas rutin lainnya.

  1. F. Elaborasi Mengenai Hasil Pemaparan atau Penjelasan Tentang Perkembangan Bahasa Pada Anak

Tahapan-tahapan perkembangan anak baik fisik maupun mental sangat penting untuk dipelajari dan dipahami oleh para orang tua pada khususnya dan para pendidik pada umumnya. Hal itu penting karena apa yang diberikan oleh orang tua dan para pendidik kepada anak dalam masa perkembangannya akan sangat berpengaruh pada masa depan sang anak dikemudian harinya . Sebagai contohnya yaitu dalam aspek perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak. Untuk menanamkan perkembangan bahasa anak yang baik diperlukan pola pengasuhan yang komprehensif dari orang tua yang merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi seorang anak.

Keluarga merupakan ‘taman sekolah’ pertama bagi seorang anak. Dari sana lah sang anak dibentuk pertama kali oleh orang tuanya akan menjadi seperti apa dikemudian harinya. Orang tua harus memahami betul kapan seorang anak mengalami perkembangan bahasa pertahapannya sehingga orang tua dapat memberikan stimulus positif yang sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Dari awal ketika bayi lahir, seorang ayah langsung menyuarakan adzan ke telinga sang bayi dengan tujuan agar suara yang pertama kali didengar oleh anak adalah kalimat yang baik walaupun pada saat bayi lahir pendengarannya belum dapat berfungsi dengan baik. Namun, jika pertamanya diawali dengan baik maka dalam perkembangannya pun insya Allah dapat baik pula.

Kemudian, ketika bayi mulai tumbuh dan melalui fase-fase perkembangan bahasa, seorang ibu harus menstimuli sang anak dengan mengucapkan kata-kata yang baik, pujian-pujian, kata-kata kasih sayang, dan disertai pula dengan komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah yang lembut, memberi ciuman dan pelukan hangat. Komunikasi verbal saja tidak cukup. Jadi, harus saling bersamaan antara komunikasi verbal dan nonverbal. Dengan begitu, emotional bonding antara ibu dan anak semakin kuat.

Demikian pula ketika menstimulasi anak melalui sarana komunikasi, seperti televisi, komputer, dan radio. Orang tua harus menemani anak dalam menonton televisi. Berdasarkan penelitian, televisi dapat menghambat perkembangan bahasa anak. Orang tua harus memilah-milah mana tontonan yang baik dan sesuai dengan perkembangan anak dan mana yang tidak dan pula harus diberi penjelasan mengenai pesan-pesan dari tontonan tersebut pada anak. Kemudian, dalam memperkenalkan komputer pada anak, orang tua harus secara aktif menemani anak dalam memperkenalkan dan mempelajari  komputer. Waktu pemakaian komputer pun juga harus dibatasi karena anak juga harus berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Lalu terkait dengan nyanyian atau lagu untuk anak-anak. Hal itu pula harus diperhatikan karena sangat mempengaruhi bahasa anak. Lebih baik menghidupi suasana rumah dengan senandung Al-Qur’an dan perkenalkanlah Al-Qur’an sejak dini kepada anak.

Perkembangan bahasa pada anak tidak dapat berlangsung dengan baik tanpa didukung aktif oleh orang tua dan pendidik. Selain ibu, peran ayah pun juga sangat dibutuhkan dalam masa perkembangan bahasa anak. Ayah juga harus menjadi teladan yang baik bagi anaknya, yaitu dalam mengucapkan atau berkomunikasi dengan mengucapkan kata-kata yang penuh ilmu dan tuntunan agama, tidak kasar, dan tidak membentak. Jika orang tua dan pendidik bekerja sama dengan baik dalam memberikan teladan yang positif pada anak dalam masa-masa perkembangannya baik fisik maupun mental maka anak kelak akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang mulia budi pekertinya dan santun budi bahasanya.

Zaman dahulu kala, persalinan hampir selalu mengenal kata “normal”, dalam arti bayi keluar melalui “jalan lahir” atau vagina. Namun mulai akhir dekade 90an sampai dengan saat ini, melahirkan dengan cara caesar seakan-akan menjadi trend dan mode. Para calon ibu berbondong-bondong mem-booking rumah sakit untuk melakukan proses kelahiran dengan cara caesar, seperti halnya mem-booking hotel. Operasi caesar pun banyak yang dilakukan tanpa anjuran medis sama sekali. Alasan yang diberikan umumnya agar bisa memilih tanggal lahir seperti yang diinginkan (misalnya, pada pergantian millenium), juga untuk alasan praktis seperti sang ibu tidak perlu tersiksa harus mengejan, selain itu rasa nyeri yang ditimbulkan saat proses kelahiran juga tidak separah melahirkan normal karena sang ibu mengalami bius, baik lokal maupun total. Tak heran, angka kelahiran caesar di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Operasi caesar yaitu suatu tindakan melahirkan bayi melalui perut. Dengan kata lain proses melahirkan bayi ini tidak melalui jalan lahir biasa vagina).Tetapi, ini harus dilakukan berdasarkan adanya indikasi medis,” tegas Dr.H. Boyke Dian Nugraha, DSOG, MARS, dari RS Kanker Dharmais, Jakarta

Banyaknya calon ibu yang minta di-caesar tanpa rekomendasi medis, diduga karena kurangnya informasi tentang hal itu. Padahal, resiko operasi itu banyak dan serius, sehingga jauh lebih berbahaya dibanding persalinan normal. Dan yang harus memikul resiko itu bukan cuma sang ibu, tapi juga bayi. WHO sendiri mengatakan bahwa seharusnya operasi caesar hanya digunakan untuk menangani 10-15% persalinan.

Sayangnya, banyak wanita yang takut melahirkan secara normal. Lantas, memilih melahirkan dengan operasi caesar tanpa indikasi medis. “Ini tindakan yang sangat berlebihan. Karena meski bagaimana melahirkan normal sejak dulu adalah peristiwa fisiologis, alamiah, yang tentu saja jauh lebih baik dari persalinan lewat operasi,” kata Dr. Boyke.

Jika indikasi medis menunjukkan adanya kelainan, baik pada ibu ataupun janin, maka operasi caesar bisa menjadi salah satu solusi. Seperti kita tahu, dalam proses persalinan ada tiga faktor penentu yang dikenal dengan istilah 3P. Yang pertama power, yaitu tenaga mengejan atau kontraksi otot dinding perut rahim. Kemudian passage keadaan jalan lahir. Dan, passanger, yakni si janin yang hendak dikeluarkan.

Kelainan power yang berakibat pada dilakukannya operasi caesar yaitu, keadaan ibu berpenyakit jantung atau asma yang akut, daya mengejan lemah, dan beberapa penyakit menahun lain yang mempengaruhi tenaga. Kelainan passage biasanya timbul karena sempitnya panggul, tertutupnya jalan lahir oleh plasenta, atau terdapat infeksi di jalan lahir sehingga dikhawatirkan akan menular ke anak, misalnya herpes kelamin. Kelainan passanger karena bayi dengan berat lahir besar (lebih dari 4 kg), bayi sungsang untuk kelahiran pertama, atau diduga janin dengan keadaan denyut nadi kacau dan melemah.

Saat ini yang mengherankan, terdapat dokter yang bersedia memenuhi keinginan si ibu untuk operasi caesar kendati tanpa indikasi medis. Operasi caesar memang menguntungkan jika dilakukan dengan alasan yang tepat, seperti yang telah diuraikan di atas. Tetapi, menjadi sia-sia jika tanpa alasan medis. Tentu karena operasi ini menguras dana yang tidak sedikit. Yang mungkin lebih baik jika dana ini dialihkan untuk keperluan yang lain.

Kecuali itu, operasi ini pun merugikan janin jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Misalnya saja terjadi waktu operasi yang terlalu lama. Akibatnya, anestesi yang semula hanya ditujukan buat si ibu, bisa mempengaruhi janin. Sehingga bayi yang dilahirkan tidak langsung menangis. Kelambatan menangis ini bisa menyebabkan kelainan hemodinamika. Begitu juga saat pengeluaran air ketuban di saluran napas. Pada persalinan normal, karena bayi melewati jalan lahir yang sempit sehingga sisa cairan terperas keluar. Tidak demikian halnya pada persalinan caesar.

Kondisi-kondisi tersebut tentu akan berpengaruh pada skor apgar, yaitu penilaian terhadap kemampuan adaptasi bayi dengan lingkungan barunya.Saat ini operasi caesar dianggap mampu menyelamatkan bayi-bayi yang tidak bisa lahir lewat persalinan normal. Misalnya saja, bayi prematur yang mengalami gangguan pernapasan. Dalam makalah ini kami akan berusaha menganalisis dan membahas masalah kelahiran normal dan caesar dengan lebih mendetail.

Keadaan Umum Responden

Responden dengan kelahiran normal berusia 41 tahun pada saat melahirkan anak yang terakhir. Ibu dengan empat orang anak ini telah mengalami empat kali masa kehamilan dan juga empat kali kelahiran. Semua anaknya dilahirkan dalam keadaan normal. Berbeda dengan responden yang satu lagi. Dimana kedua anaknya dilahirkan melalui bedah caesar. Pada saat anak kedua lahir, responden ini berusia 27 tahun.

Keadaan Kesehatan Menjelang Kelahiran

Dari hasil wawancara yang didapat, diketahui bahwa keadaan kesehatan ibu hamil sangat berpengaruh pada proses kelahiran bayinya. Terbukti dari kedua responden yang telah diwawancarai. Ibu dengan kelahiran caesar mengaku bahwa ia pernah menderita penyakit yang serius, yaitu hipertensi. Walaupun ia sudah berusaha melakukan pengobatan dan mengkonsumsi vitamin, namun penyakit tersebut tetap memberikan efek negatif terhadap janin yang dikandungnya. Apalagi beliau tidak menjaga stamina dengan berolahraga.

Kelahiran caesar pada anak keduanya ini sebenarnya terpaksa dilakukan oleh responden yang bernama ibu Elis ini. Hal ini dikarenakan jarak kelahiran anak pertama dengan anak ke dua hanya berkisar satu tahun. Anak pertama yang juga dilahirkan melalui operasi caesar membuat dokter melarang Ibu Elis untuk melahirkan normal. Karena menurutnya, setelah melakukan operasi caesar dan hendak melahirkan normal pada kehamilan berikutnya maka jarak minimal yang dibutuhkan adalah tiga tahun. Tetapi jika tidak mencukupi waktu tersebut, si Ibu harus melakukan operasi caesar kembali karena jika memilih untuk melahirkan secara normal, akan beresiko terhadap kandungan sang Ibu.

Berbeda dengan ibu Elis, responden yang kedua, ibu Nani tidak pernah menderita penyakit akut yang serius. Kondisi fisiknya sebelum dan pada saat kehamilan selalu ia jaga agar selalu prima. Hal ini terbukti dengan aktivitas olah raga sebelum ia hamil. Namun, pada saat hamil ibu dengan empat anak ini mengaku tidak melakukan senam kehamilan karena tidak memadainya fasilitas yang ia miliki akan tetapi ia menggantinya dengan menjalankan tugas sehari-hari dengan rutin agar tetap berkeringat. Selain itu, ibu Nani juga mendapatkan imunisasi saat hamil, tidak seperti Ibu Elis yang tidak mendapatkan imunisasi tersebut.

Besarnya bayi yang dikandung juga mempengaruhi proses kelahiran. Bayi yang memiliki ukuran tubuh yang besar juga memicu seseorang untuk melahirkan melalui operasi caesar. Upaya ini dilakukan untuk menghindari terjadinya resiko buruk yang akan dialami oleh ibu dan anak dikemudian hari. Hal ini terlihat sangat jelas dari kedua responden dimana Ibu Nani yang hanya mengalami penambahan berat badan sekitar 8 kilogram, melahirkan dengan cara normal Sedangkan Ibu Elis yang mengalami kenaikan berat badan sekitar 14 kilogram, melahirkan dengan cara caesar. Kenaikan berat badan Ibu Elis ini menandakan bahwa bayi yang sedang dikandungnya berukuran besar yang menjadi salah satu penyebab kelahiran anak keduanya ini harus dilakukan melalui operasi caesar.

Keadaan Kesehatan Setelah Melahirkan

Perbedaan mendasar antara kelahiran normal dan caesar juga terlihat dari usia bayi yang dilahirkan. Pada umumnya, bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar tidak mencukupi usia kelahiran bayi pada umumnya. Hal ini memang disengaja oleh para dokter karena jika usia bayi mencapai usia kehamilan normal, yaitu sekitar 42 minggu, maka kandungan ibu akan berkontraksi dengan sendirinya untuk melahirkan secara normal. Padahal apabila kelahiran normal tidak memungkinkan dilakukan karena alasan medis, maka ini akan berdampak buruk bagi ibu maupun anak tersebut.

Tidak seperti Ibu Nani yang melahirkan secara normal, kelahiran anak Ibu Elis terjadi ketika usia anaknya mencapai 38 minggu. Kelahiran premature inilah yamg menyebabkan ukuran bayi pada saat lahir kecil dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan cukup usia. Walaupun kesehatan Ibu Elis pulih satu hari setelah melahirkan, namun tetap saja harus diawasi dan dirawat oleh dokter spesialis selama satu minggu. Berbeda dengan Ibu Nani yang tidak memerlukan perawatan khusus dari dokter spesialis, akan tetapi kondisi kesehatannya pulih satu hari lebih lama dibandingkan dengan Ibu Elis.

Keadaan kesehatan bayi kedua responden ini cukup baik dan sehat ketika setelah dilahirkan dan sampai sekarangpun kondisi kesehatannya tetap terjaga. Tidak tampak adanya gejala-gejala penyakit pada bayi Ibu Elis yang sekarang berusia tiga bulan lima hari. Sama halnya dengan bayi Ibu Nani yang berusia tujuh bulan tujuh hari, bayi yang berjenis kelamin laki-laki ini menunjukkan kesehatan yang prima pada usianya yang masih tergolong kecil.

Pengalaman Psikologis Setelah Melahirkan

Perasaan yang dirasakan masing-masing ibu berbeda pada saat melahirkan. Ada yang merasa cemas, khawatir bahkan ada yang stress disaat menjelang proses kelahiran tersebut. Hal ini juga yang dialami Ibu Elis dan Ibu Nani menjelang kelahiran anaknya.

Ibu Elis yang melahirkan anak pertamanya dengan operasi caesar merasa sangat khawatir ketika anak keduanya ini juga harus dilahirkan melalui operasi caesar. Ia sangat takut jika anaknya yang sekarang tidak selamat sama seperti anaknya yang pertama. Walaupun proses bersalin melalui operasi caesar pada anak pertamanya dapat dikatakan berhasil, namun ternyata kondisi fisik anaknya tersebut tidak memungkinkan untuk bertahan hidup dan meninggal pada usia dua hari setelah kelahiran.

Disaat Ibu Elis merasakan hal tersebut, dukungan suami terasa sangat membantu dirinya untuk meredam perasaan khawatirnya itu. Selain dukungan secara mental, suaminya juga memberikan dukungan secara fisik dengan cara mengurus segala persiapan Ibu Elis, baik sebelum kelahiran maupun setelahnya.

Melihat kondisi anaknya yang sehat setelah operasi dilakukan, Ibu Elis dan suaminya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka berdua tidak terlalu mempermasalahkan perkara jenis kelamin. Menurut mereka, asalkan anaknya terlahir dengan kondisi sehat merupakan karunia yang sangat besar bagi mereka.

Berbeda dengan Ibu Nani yang merasa sangat senang ketika anaknya yang ke-empat ini lahir dengan jenis kelamin yang sesuai dengan keinginannya dan suaminya, yaitu laki-laki. walaupun menjelang kelahiran Ibu Nani merasa agak takut, mengingat usianya yang sudah mencapai 40 tahun. Namun hal itu terobati karena anaknya bisa dilahirkan secara normal tanpa operasi. Apalagi pada saat itu suami memberikan dukungan dan perhatian yang lebih kepadanya.

Perbandingan kebiasaan makan responden

Pada umumnya, ibu setelah melahirkan akan mengalami peningkatan dalam porsi dan frekuensi makannya baik dari responden yang melahirkan normal maupun yang melahirkan dengan bantuan operasi caesar. Hal tersebut dikarenakan ibu-ibu tersebut sedang menyusui sehingga asupan makan akan bertambah dibanding dari sebelum melahirkan. Namun ada perbedaan dari jenis makanan yang dikonsumsi oleh kedua ibu tersebut. Kedua responden yang melahirkan normal lebih banyak memakan sumber protein nabati, misalnya tahu dan tempe serta sayuran. Ibu yang melahirkan dengan operasi Caesar lebih banyak memakan sayuran. Intensitas (lebih sering atau tidaknya) lebih didasarkan pada faktor kesukaan. Sumber karbohidrat yang responden konsumsi masih seperti kebanyakan orang Indonesia pada umumnya, yaitu nasi. Untuk sumber makanan lainnya dipenuhi secara merata oleh keduanya.

Kedua responden tersebut tidak memiliki pantangan makan setelah melahirkan. Informasi tersebut, keduanya dapatkan dari dokter maupun bidan tempat responden memeriksakan kehamilannya. Karena memang keadaan kedua responden memungkinkan untuk memakan semua jenis makanan. Tidak ada mitos-mitos yang dituruti keduanya yang biasa dilakukan oleh ibu menyusui kebanyakan. Namun untuk  responden dengan kelahiran Caesar ini, konsumsi yang mengandung garam berlebihan dikurangi. Frekuensi makan ibu selama masa pasca melahirkan, responden melahirkan normal lima kali dalam satu hari sedangkan ibu dengan operasi Caesar tiga sampai empat kali sehari. Hal tersebut dapat disebabkan karena perbedaan jenis kelamin  anak kedua ibu tersebut. Anak laki-laki (anak responden melahirkan normal) menyusu lebih sering dibanding anak perempuan (anak dari responden melahirkan Caesar).

Setelah persalinan ini, kedua responden mempunyai minuman tambahan yang biasa dikonsumsi. Responden kelahiran normal meminum suplemen penambah darah yang dikonsumsi satu kali sehari. Karena semasa kehamilan pun, responden mengalami anemia. Responden dengan kelahiran operasi Caesar hanya meminum susu untuk ibu menyusui dua kali sehari.

Analisis kasus ibu dengan kelahiran bermasalah

Ibu Elis melahirkan putri keduanya melalui operasi caesar. Sebenarnya Zahra, anak responden, sehat dan normal dalam kandungan. Hanya saja, dokter spesialis kandungan memberitahukan bahwa responden harus melahirkan dengan operasi Caesar mulai dari awal kehamilan. Hal tersebut dikarenakan respondenmengalami pre-eklamasi. Hipertensi yang dialami responden selalu terjadi setiap kehamilan namun tekanan darah responden kembali normal setelah melahirkan.

Saat kehamilan pertama, tekanan darah responden sangat tinggi hingga mencapai 200 per 110 sehingga dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi Caesar. Saat itu usia kehamilan responden masih berusia 26 minggu. Sehingga bayi mengalami gangguan paru-paru (belum bisa bernapas normal). Dua hari setelah kelahiran, bayi tersebut meninggal.

Tiga bulan setelah kelahiran, responden dinyatakan hamil lagi. Karena jarak dari kelahiran pertama ke yang kedua terlampau dekat, dokter telah mengharuskan responden untuk melahirkan dengan operasi Caesar pada awal kehamilan. Menurut dokter, jika ingin melahirkan normal pada kelahiran kedua, jarak yang aman dari kelahiran operasi Caesar pertama minimal tiga tahun.

Satu hari menjelang kelahiran, responden telah berada di rumah sakit untuk menjalani pemantauan dan pengecekkan kesehatan. Delapan jam menjelang operasi, responden diharuskan untuk berpuasa dan beristirahat.  Sesudah proses kelahiran, responden dipisahkan dari bayinya. Bayi ditepatkan pada ruangan tersendiri di baby room. Sedangkan responden tetap di ruang perawatan. Hanya ketika ingin menyusui saja, bayi diserahkan kepada responden. Sambil keduanya mendapatkan pengointrolan dan perawatan. Responden mendapat dukungan besar dari suami dan keluarga hingga akhirnya responden dapat melahirkan dengan selamat dan bayinya sudah berusia 3 bulan.

Pengaruh Perilaku Orang Tua dan Pola Kasih Sayang Terhadap Anak Pada Kedekatan Hubungan; Jurnal Instruksional Psikologi, Edisi September 2001 Oleh Jennifer Neal, Donna Frick-Horbury

Definisi Parenting (Pengasuhan) Menurut Beberapa Ahli dan Macam-Macam Pola Pengasuhan

Menurut Jerome Kagan, seorang psikolog perkembangan, mendefinisikan pengasuhan (parenting) sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh orang tua/ pengasuh agar anak mampu bertanggung jawab dan memberikan kontribusi sebagai anggota masyarakat termasuk juga apa yang harus dilakukan orang tua/ pengasuh ketika anak menangis, marah, berbohong, dan tidak melakukan kewajibannya dengan baik (Berns, 1997). Berns (1997) menyebutkan bahwa pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak tetapi juga bagi orang tua. Senada dengan Berns, Brooks (2001) juga mendefinisikan pengasuhan sebagai sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi dan interaksi yang dilakukan orang tua untuk mendukung perkembangan anak. Proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orang tua mempengaruhi anak namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak yang dipengaruhi oleh budaya dan kelembagaan sosial dimana anak dibesarkan.

Pengasuhan erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga/ rumah tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu, dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya (ICN 1992 dalam Engel et al. 1997). Hoghughi (2004) menyebutkan bahwa pengasuhan mencakup beragam aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik.

Prinsip pengasuhan menurut Hoghughi tidak menekankan pada siapa (pelaku) namun lebih menekankan pada aktifitas dari perkembangan dan pendidikan anak. Oleh karenanya, pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi, dan pengasuhan sosial.

Pengasuhan fisik mencakup semua aktifitas yang bertujuan agar anak dapat bertahan hidup dengan baik dengan menyediakan kebutuhan dasarnya seperti makan, kehangatan, kebersihan, ketenangan waktu tidur, dan kepuasan ketika membuang sisa metabolisme dalam tubuhnya. Pengasuhan emosi mencakup pendampingan ketika anak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan seperti merasa terasing dari teman-temannya, takut, atau mengalami trauma. Pengasuhan emosi ini mencakup pengasuhan agar anak merasa dihargai sebagai seorang individu, mengetahui rasa dicintai, serta memperoleh kesempatan untuk menentukan pilihan dan untuk mengetahui resikonya. Pengasuhan emosi ini bertujuan agar anak mempunyai kemampuan yang stabil dan konsisten dalam berinteraksi dengan lingkungannya, menciptakan rasa aman, serta menciptakan rasa optimistik atas hal-hal baru yang akan ditemui oleh anak. Sementara itu, pengasuhan sosial bertujuan agar anak tidak merasa terasing dari lingkungan sosialnya yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa selanjutnya. Pengasuhan sosial ini menjadi sangat penting karena hubungan sosial yang dibangun dalam pengasuhan akan membentuk sudut pandang terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Pengasuhan sosial yang baik berfokus pada memberikan bantuan kepada anak untuk dapat terintegrasi dengan baik di lingkungan rumah maupun sekolahnya dan membantu mengajarkan anak akan tanggung jawab sosial yang harus diembannya (Hughoghi, 2004).

Beberapa definisi tentang pengasuhan tersebut menunjukkan bahwa konsep pengasuhan mencakup beberapa pengertian pokok, antara lain: (i) pengasuhan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, baik secara fisik, mental, maupun sosial, (ii) pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang terus menerus  antara orang tua dengan anak,

(iii) pengasuhan adalah sebuah proses sosialisasi, (iv) sebagai sebuah proses interaksi dan sosialisasi, proses pengasuhan tidak bisa dilepaskan dari sosial budaya dimana anak dibesarkan.

Pola asuh anak juga akan mempengaruhi Self Esteem atau harga dirinya di kemudian hari. Self Esteem adalah penilaian seseorang terhadap dirinya yang berkembang dari feeling of belonging (perasaan diterima oleh kelompok sosialnya), feeling competent (perasaan efisien, produktif), dan feeling worthwhile (perasaan berharga, cantik, pandai, baik) (Felker, 1998). Jadi Harga diri seseorang bisa dikatakan baik apabila ia merasa diterima oleh kelompok sosialnya, merasa mampu, dan merasa berharga. Anak perlu diajarkan untuk memiliki self confidence (rasa percaya diri) yaitu mempunyai perasaan yang teguh pada pendiriannya, tabah apabila menghadapi masalah, kreatif dalam mencari jalan keluar, dan ambisi dalam mencapai sesuatu.  Ia juga perlu diajarkan untuk mempunyai self respect (hormat pada diri sendiri), yaitu mempunyai perasaan yang konstruktif, hormat pada orang lain, dan bersyukur pada apa yang dimilikinya.

Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:

1. Pola asuh Demokratis

2. Pola asuh Otoriter

3. Pola asuh Permisif

4. Pola asuh Penelantar.

Pola asuh Demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

Pola asuh otoriter sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.

Pola asuh Permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun, orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak.

Pola asuh tipe yang terakhir adalah tipe Penelantar (neglected). Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.

Karakteristik-karakteristik Anak dalam kaitannya dengan pola asuh orang tua.

Karakteristik-karakteristik anak dengan pola-pola asuh tersebut di atas adalah:

1. Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.

2. Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas, dan menarik diri.

3. Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.

4. Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

Tentang Jurnal

Makalah ini menguji pendapat yang menyatakan bahwa ciri-ciri lingkungan keluarga yang bergaya kekuasaan, otoriter, dan serba membolehkan nampak berkaitan dengan sikap melindungi, menghindari, dan berprasangka. Penelitian dilakukan terhadap 56 orang siswa relawan. Hasilnya menunjukkan walaupun 92% siswa hidup di lingkungan keluarga yang otoriter juga tertutup namun sikap kasih sayang lah yang memberikan kerukunan.

Ainsworth (1964) membagi sikap kasih sayang kepada tiga tipe; yaitu: melindungi, menghindari, dan berprasangka. Karakteristik ini dimiliki oleh para ibu terhadap anaknya dan reaksi anak terhadap ibunya.

Pola kasih sayang mempengaruhi perkembangan anak menuju dewasa.

Anak yang hidup dalam keluarga yang otoriter cenderung dilanda rasa cemas, pemarah, agresif, dan tidak punya harga diri.( Baumrind, 1967;1971). Pada kesempatan lain, Elicker, Englund, dan Sroufe (1992) menggambarkan bahwa anak-anak avoidant sebagai pemarah, agresif, terisolir, dan tidak disukai teman sebayanya.

Baumrind (1967) melanjutkan bahwa anak-anak dari keluarga permissive mempunyai kontrol diri yang rendah, kurang percaya diri, dan tidak dewasa sedangkan anak-anak ambivalenty digambarkan sebagai dilanda rasa cemas, tidak dewasa (Karen, 1998) dan terlihat kurang inisiatif (Egeland & Farber, 1984). Akhirnya, diprediksi bahwa perilaku keluarga yang otoriter akan dibarengi dengan sikap tertutup daripada dengan perilaku permissive.

Metode Penelitian

Peserta

Metode penelitian tersebut dilakukan dengan jumlah peserta sebanyak 56 relawan mahasiswa dari Universitas Appalachia yang terdiri dari 19 pria dan 34 wanita. Pada peserta berumur antara 18 hingga 22 tahun.

Material dan Prosedur

Peserta diminta menjawab kuisioner yang memuat informasi tentang: gender, status hubungan dan riwayat perkawinan orang tua serta persepsi tentang kasih sayang orang tua. Peserta melengkapi kuisioner dalam kelompok yang tidak lebih dari 15 orang. Waktu penyelesaian lebih kurang 15 menit.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok dari ketiga perilaku orang tua. Perilaku authoritative mempunyai skor yang lebih tinggi daripada authoritarian ataupun permissive. Ada 70% peserta dari keluarga authoritative yang bersifat tertutup, hanya 12,5% dari keluarga authoritarian yang bersifat tertutup, dan 0% dari keluarga permissive. Akhirnya, jelaslah bahwa perilaku orang tua mempengaruhi sikap kasih sayang anak dengan korelasi 0,56.

Diskusi

Hasil analisis menunjukkan bahwa orang-orang dengan keluarga authoritative memperoleh skor tinggi pada variabel: kehangatan, rasa aman, dan kemandirian kesehatan yang diprediksi dengan kerukunan dalam keluarga. Namun demikian, mereka tidak lebih rukun daripada orang dalam keluarga authoritarian atau permissive. Hipotesis tidak menegaskan kaitan proposal perilaku orang tua dan takaran kasih sayang merupakan bentuk yang sama.