Zaman dahulu kala, persalinan hampir selalu mengenal kata “normal”, dalam arti bayi keluar melalui “jalan lahir” atau vagina. Namun mulai akhir dekade 90an sampai dengan saat ini, melahirkan dengan cara caesar seakan-akan menjadi trend dan mode. Para calon ibu berbondong-bondong mem-booking rumah sakit untuk melakukan proses kelahiran dengan cara caesar, seperti halnya mem-booking hotel. Operasi caesar pun banyak yang dilakukan tanpa anjuran medis sama sekali. Alasan yang diberikan umumnya agar bisa memilih tanggal lahir seperti yang diinginkan (misalnya, pada pergantian millenium), juga untuk alasan praktis seperti sang ibu tidak perlu tersiksa harus mengejan, selain itu rasa nyeri yang ditimbulkan saat proses kelahiran juga tidak separah melahirkan normal karena sang ibu mengalami bius, baik lokal maupun total. Tak heran, angka kelahiran caesar di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Operasi caesar yaitu suatu tindakan melahirkan bayi melalui perut. Dengan kata lain proses melahirkan bayi ini tidak melalui jalan lahir biasa vagina).Tetapi, ini harus dilakukan berdasarkan adanya indikasi medis,” tegas Dr.H. Boyke Dian Nugraha, DSOG, MARS, dari RS Kanker Dharmais, Jakarta

Banyaknya calon ibu yang minta di-caesar tanpa rekomendasi medis, diduga karena kurangnya informasi tentang hal itu. Padahal, resiko operasi itu banyak dan serius, sehingga jauh lebih berbahaya dibanding persalinan normal. Dan yang harus memikul resiko itu bukan cuma sang ibu, tapi juga bayi. WHO sendiri mengatakan bahwa seharusnya operasi caesar hanya digunakan untuk menangani 10-15% persalinan.

Sayangnya, banyak wanita yang takut melahirkan secara normal. Lantas, memilih melahirkan dengan operasi caesar tanpa indikasi medis. “Ini tindakan yang sangat berlebihan. Karena meski bagaimana melahirkan normal sejak dulu adalah peristiwa fisiologis, alamiah, yang tentu saja jauh lebih baik dari persalinan lewat operasi,” kata Dr. Boyke.

Jika indikasi medis menunjukkan adanya kelainan, baik pada ibu ataupun janin, maka operasi caesar bisa menjadi salah satu solusi. Seperti kita tahu, dalam proses persalinan ada tiga faktor penentu yang dikenal dengan istilah 3P. Yang pertama power, yaitu tenaga mengejan atau kontraksi otot dinding perut rahim. Kemudian passage keadaan jalan lahir. Dan, passanger, yakni si janin yang hendak dikeluarkan.

Kelainan power yang berakibat pada dilakukannya operasi caesar yaitu, keadaan ibu berpenyakit jantung atau asma yang akut, daya mengejan lemah, dan beberapa penyakit menahun lain yang mempengaruhi tenaga. Kelainan passage biasanya timbul karena sempitnya panggul, tertutupnya jalan lahir oleh plasenta, atau terdapat infeksi di jalan lahir sehingga dikhawatirkan akan menular ke anak, misalnya herpes kelamin. Kelainan passanger karena bayi dengan berat lahir besar (lebih dari 4 kg), bayi sungsang untuk kelahiran pertama, atau diduga janin dengan keadaan denyut nadi kacau dan melemah.

Saat ini yang mengherankan, terdapat dokter yang bersedia memenuhi keinginan si ibu untuk operasi caesar kendati tanpa indikasi medis. Operasi caesar memang menguntungkan jika dilakukan dengan alasan yang tepat, seperti yang telah diuraikan di atas. Tetapi, menjadi sia-sia jika tanpa alasan medis. Tentu karena operasi ini menguras dana yang tidak sedikit. Yang mungkin lebih baik jika dana ini dialihkan untuk keperluan yang lain.

Kecuali itu, operasi ini pun merugikan janin jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Misalnya saja terjadi waktu operasi yang terlalu lama. Akibatnya, anestesi yang semula hanya ditujukan buat si ibu, bisa mempengaruhi janin. Sehingga bayi yang dilahirkan tidak langsung menangis. Kelambatan menangis ini bisa menyebabkan kelainan hemodinamika. Begitu juga saat pengeluaran air ketuban di saluran napas. Pada persalinan normal, karena bayi melewati jalan lahir yang sempit sehingga sisa cairan terperas keluar. Tidak demikian halnya pada persalinan caesar.

Kondisi-kondisi tersebut tentu akan berpengaruh pada skor apgar, yaitu penilaian terhadap kemampuan adaptasi bayi dengan lingkungan barunya.Saat ini operasi caesar dianggap mampu menyelamatkan bayi-bayi yang tidak bisa lahir lewat persalinan normal. Misalnya saja, bayi prematur yang mengalami gangguan pernapasan. Dalam makalah ini kami akan berusaha menganalisis dan membahas masalah kelahiran normal dan caesar dengan lebih mendetail.

Keadaan Umum Responden

Responden dengan kelahiran normal berusia 41 tahun pada saat melahirkan anak yang terakhir. Ibu dengan empat orang anak ini telah mengalami empat kali masa kehamilan dan juga empat kali kelahiran. Semua anaknya dilahirkan dalam keadaan normal. Berbeda dengan responden yang satu lagi. Dimana kedua anaknya dilahirkan melalui bedah caesar. Pada saat anak kedua lahir, responden ini berusia 27 tahun.

Keadaan Kesehatan Menjelang Kelahiran

Dari hasil wawancara yang didapat, diketahui bahwa keadaan kesehatan ibu hamil sangat berpengaruh pada proses kelahiran bayinya. Terbukti dari kedua responden yang telah diwawancarai. Ibu dengan kelahiran caesar mengaku bahwa ia pernah menderita penyakit yang serius, yaitu hipertensi. Walaupun ia sudah berusaha melakukan pengobatan dan mengkonsumsi vitamin, namun penyakit tersebut tetap memberikan efek negatif terhadap janin yang dikandungnya. Apalagi beliau tidak menjaga stamina dengan berolahraga.

Kelahiran caesar pada anak keduanya ini sebenarnya terpaksa dilakukan oleh responden yang bernama ibu Elis ini. Hal ini dikarenakan jarak kelahiran anak pertama dengan anak ke dua hanya berkisar satu tahun. Anak pertama yang juga dilahirkan melalui operasi caesar membuat dokter melarang Ibu Elis untuk melahirkan normal. Karena menurutnya, setelah melakukan operasi caesar dan hendak melahirkan normal pada kehamilan berikutnya maka jarak minimal yang dibutuhkan adalah tiga tahun. Tetapi jika tidak mencukupi waktu tersebut, si Ibu harus melakukan operasi caesar kembali karena jika memilih untuk melahirkan secara normal, akan beresiko terhadap kandungan sang Ibu.

Berbeda dengan ibu Elis, responden yang kedua, ibu Nani tidak pernah menderita penyakit akut yang serius. Kondisi fisiknya sebelum dan pada saat kehamilan selalu ia jaga agar selalu prima. Hal ini terbukti dengan aktivitas olah raga sebelum ia hamil. Namun, pada saat hamil ibu dengan empat anak ini mengaku tidak melakukan senam kehamilan karena tidak memadainya fasilitas yang ia miliki akan tetapi ia menggantinya dengan menjalankan tugas sehari-hari dengan rutin agar tetap berkeringat. Selain itu, ibu Nani juga mendapatkan imunisasi saat hamil, tidak seperti Ibu Elis yang tidak mendapatkan imunisasi tersebut.

Besarnya bayi yang dikandung juga mempengaruhi proses kelahiran. Bayi yang memiliki ukuran tubuh yang besar juga memicu seseorang untuk melahirkan melalui operasi caesar. Upaya ini dilakukan untuk menghindari terjadinya resiko buruk yang akan dialami oleh ibu dan anak dikemudian hari. Hal ini terlihat sangat jelas dari kedua responden dimana Ibu Nani yang hanya mengalami penambahan berat badan sekitar 8 kilogram, melahirkan dengan cara normal Sedangkan Ibu Elis yang mengalami kenaikan berat badan sekitar 14 kilogram, melahirkan dengan cara caesar. Kenaikan berat badan Ibu Elis ini menandakan bahwa bayi yang sedang dikandungnya berukuran besar yang menjadi salah satu penyebab kelahiran anak keduanya ini harus dilakukan melalui operasi caesar.

Keadaan Kesehatan Setelah Melahirkan

Perbedaan mendasar antara kelahiran normal dan caesar juga terlihat dari usia bayi yang dilahirkan. Pada umumnya, bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar tidak mencukupi usia kelahiran bayi pada umumnya. Hal ini memang disengaja oleh para dokter karena jika usia bayi mencapai usia kehamilan normal, yaitu sekitar 42 minggu, maka kandungan ibu akan berkontraksi dengan sendirinya untuk melahirkan secara normal. Padahal apabila kelahiran normal tidak memungkinkan dilakukan karena alasan medis, maka ini akan berdampak buruk bagi ibu maupun anak tersebut.

Tidak seperti Ibu Nani yang melahirkan secara normal, kelahiran anak Ibu Elis terjadi ketika usia anaknya mencapai 38 minggu. Kelahiran premature inilah yamg menyebabkan ukuran bayi pada saat lahir kecil dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan cukup usia. Walaupun kesehatan Ibu Elis pulih satu hari setelah melahirkan, namun tetap saja harus diawasi dan dirawat oleh dokter spesialis selama satu minggu. Berbeda dengan Ibu Nani yang tidak memerlukan perawatan khusus dari dokter spesialis, akan tetapi kondisi kesehatannya pulih satu hari lebih lama dibandingkan dengan Ibu Elis.

Keadaan kesehatan bayi kedua responden ini cukup baik dan sehat ketika setelah dilahirkan dan sampai sekarangpun kondisi kesehatannya tetap terjaga. Tidak tampak adanya gejala-gejala penyakit pada bayi Ibu Elis yang sekarang berusia tiga bulan lima hari. Sama halnya dengan bayi Ibu Nani yang berusia tujuh bulan tujuh hari, bayi yang berjenis kelamin laki-laki ini menunjukkan kesehatan yang prima pada usianya yang masih tergolong kecil.

Pengalaman Psikologis Setelah Melahirkan

Perasaan yang dirasakan masing-masing ibu berbeda pada saat melahirkan. Ada yang merasa cemas, khawatir bahkan ada yang stress disaat menjelang proses kelahiran tersebut. Hal ini juga yang dialami Ibu Elis dan Ibu Nani menjelang kelahiran anaknya.

Ibu Elis yang melahirkan anak pertamanya dengan operasi caesar merasa sangat khawatir ketika anak keduanya ini juga harus dilahirkan melalui operasi caesar. Ia sangat takut jika anaknya yang sekarang tidak selamat sama seperti anaknya yang pertama. Walaupun proses bersalin melalui operasi caesar pada anak pertamanya dapat dikatakan berhasil, namun ternyata kondisi fisik anaknya tersebut tidak memungkinkan untuk bertahan hidup dan meninggal pada usia dua hari setelah kelahiran.

Disaat Ibu Elis merasakan hal tersebut, dukungan suami terasa sangat membantu dirinya untuk meredam perasaan khawatirnya itu. Selain dukungan secara mental, suaminya juga memberikan dukungan secara fisik dengan cara mengurus segala persiapan Ibu Elis, baik sebelum kelahiran maupun setelahnya.

Melihat kondisi anaknya yang sehat setelah operasi dilakukan, Ibu Elis dan suaminya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka berdua tidak terlalu mempermasalahkan perkara jenis kelamin. Menurut mereka, asalkan anaknya terlahir dengan kondisi sehat merupakan karunia yang sangat besar bagi mereka.

Berbeda dengan Ibu Nani yang merasa sangat senang ketika anaknya yang ke-empat ini lahir dengan jenis kelamin yang sesuai dengan keinginannya dan suaminya, yaitu laki-laki. walaupun menjelang kelahiran Ibu Nani merasa agak takut, mengingat usianya yang sudah mencapai 40 tahun. Namun hal itu terobati karena anaknya bisa dilahirkan secara normal tanpa operasi. Apalagi pada saat itu suami memberikan dukungan dan perhatian yang lebih kepadanya.

Perbandingan kebiasaan makan responden

Pada umumnya, ibu setelah melahirkan akan mengalami peningkatan dalam porsi dan frekuensi makannya baik dari responden yang melahirkan normal maupun yang melahirkan dengan bantuan operasi caesar. Hal tersebut dikarenakan ibu-ibu tersebut sedang menyusui sehingga asupan makan akan bertambah dibanding dari sebelum melahirkan. Namun ada perbedaan dari jenis makanan yang dikonsumsi oleh kedua ibu tersebut. Kedua responden yang melahirkan normal lebih banyak memakan sumber protein nabati, misalnya tahu dan tempe serta sayuran. Ibu yang melahirkan dengan operasi Caesar lebih banyak memakan sayuran. Intensitas (lebih sering atau tidaknya) lebih didasarkan pada faktor kesukaan. Sumber karbohidrat yang responden konsumsi masih seperti kebanyakan orang Indonesia pada umumnya, yaitu nasi. Untuk sumber makanan lainnya dipenuhi secara merata oleh keduanya.

Kedua responden tersebut tidak memiliki pantangan makan setelah melahirkan. Informasi tersebut, keduanya dapatkan dari dokter maupun bidan tempat responden memeriksakan kehamilannya. Karena memang keadaan kedua responden memungkinkan untuk memakan semua jenis makanan. Tidak ada mitos-mitos yang dituruti keduanya yang biasa dilakukan oleh ibu menyusui kebanyakan. Namun untuk  responden dengan kelahiran Caesar ini, konsumsi yang mengandung garam berlebihan dikurangi. Frekuensi makan ibu selama masa pasca melahirkan, responden melahirkan normal lima kali dalam satu hari sedangkan ibu dengan operasi Caesar tiga sampai empat kali sehari. Hal tersebut dapat disebabkan karena perbedaan jenis kelamin  anak kedua ibu tersebut. Anak laki-laki (anak responden melahirkan normal) menyusu lebih sering dibanding anak perempuan (anak dari responden melahirkan Caesar).

Setelah persalinan ini, kedua responden mempunyai minuman tambahan yang biasa dikonsumsi. Responden kelahiran normal meminum suplemen penambah darah yang dikonsumsi satu kali sehari. Karena semasa kehamilan pun, responden mengalami anemia. Responden dengan kelahiran operasi Caesar hanya meminum susu untuk ibu menyusui dua kali sehari.

Analisis kasus ibu dengan kelahiran bermasalah

Ibu Elis melahirkan putri keduanya melalui operasi caesar. Sebenarnya Zahra, anak responden, sehat dan normal dalam kandungan. Hanya saja, dokter spesialis kandungan memberitahukan bahwa responden harus melahirkan dengan operasi Caesar mulai dari awal kehamilan. Hal tersebut dikarenakan respondenmengalami pre-eklamasi. Hipertensi yang dialami responden selalu terjadi setiap kehamilan namun tekanan darah responden kembali normal setelah melahirkan.

Saat kehamilan pertama, tekanan darah responden sangat tinggi hingga mencapai 200 per 110 sehingga dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi Caesar. Saat itu usia kehamilan responden masih berusia 26 minggu. Sehingga bayi mengalami gangguan paru-paru (belum bisa bernapas normal). Dua hari setelah kelahiran, bayi tersebut meninggal.

Tiga bulan setelah kelahiran, responden dinyatakan hamil lagi. Karena jarak dari kelahiran pertama ke yang kedua terlampau dekat, dokter telah mengharuskan responden untuk melahirkan dengan operasi Caesar pada awal kehamilan. Menurut dokter, jika ingin melahirkan normal pada kelahiran kedua, jarak yang aman dari kelahiran operasi Caesar pertama minimal tiga tahun.

Satu hari menjelang kelahiran, responden telah berada di rumah sakit untuk menjalani pemantauan dan pengecekkan kesehatan. Delapan jam menjelang operasi, responden diharuskan untuk berpuasa dan beristirahat.  Sesudah proses kelahiran, responden dipisahkan dari bayinya. Bayi ditepatkan pada ruangan tersendiri di baby room. Sedangkan responden tetap di ruang perawatan. Hanya ketika ingin menyusui saja, bayi diserahkan kepada responden. Sambil keduanya mendapatkan pengointrolan dan perawatan. Responden mendapat dukungan besar dari suami dan keluarga hingga akhirnya responden dapat melahirkan dengan selamat dan bayinya sudah berusia 3 bulan.

Comments are closed.