Pengaruh Perilaku Orang Tua dan Pola Kasih Sayang Terhadap Anak Pada Kedekatan Hubungan; Jurnal Instruksional Psikologi, Edisi September 2001 Oleh Jennifer Neal, Donna Frick-Horbury

Definisi Parenting (Pengasuhan) Menurut Beberapa Ahli dan Macam-Macam Pola Pengasuhan

Menurut Jerome Kagan, seorang psikolog perkembangan, mendefinisikan pengasuhan (parenting) sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh orang tua/ pengasuh agar anak mampu bertanggung jawab dan memberikan kontribusi sebagai anggota masyarakat termasuk juga apa yang harus dilakukan orang tua/ pengasuh ketika anak menangis, marah, berbohong, dan tidak melakukan kewajibannya dengan baik (Berns, 1997). Berns (1997) menyebutkan bahwa pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak tetapi juga bagi orang tua. Senada dengan Berns, Brooks (2001) juga mendefinisikan pengasuhan sebagai sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi dan interaksi yang dilakukan orang tua untuk mendukung perkembangan anak. Proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orang tua mempengaruhi anak namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak yang dipengaruhi oleh budaya dan kelembagaan sosial dimana anak dibesarkan.

Pengasuhan erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga/ rumah tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu, dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya (ICN 1992 dalam Engel et al. 1997). Hoghughi (2004) menyebutkan bahwa pengasuhan mencakup beragam aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik.

Prinsip pengasuhan menurut Hoghughi tidak menekankan pada siapa (pelaku) namun lebih menekankan pada aktifitas dari perkembangan dan pendidikan anak. Oleh karenanya, pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi, dan pengasuhan sosial.

Pengasuhan fisik mencakup semua aktifitas yang bertujuan agar anak dapat bertahan hidup dengan baik dengan menyediakan kebutuhan dasarnya seperti makan, kehangatan, kebersihan, ketenangan waktu tidur, dan kepuasan ketika membuang sisa metabolisme dalam tubuhnya. Pengasuhan emosi mencakup pendampingan ketika anak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan seperti merasa terasing dari teman-temannya, takut, atau mengalami trauma. Pengasuhan emosi ini mencakup pengasuhan agar anak merasa dihargai sebagai seorang individu, mengetahui rasa dicintai, serta memperoleh kesempatan untuk menentukan pilihan dan untuk mengetahui resikonya. Pengasuhan emosi ini bertujuan agar anak mempunyai kemampuan yang stabil dan konsisten dalam berinteraksi dengan lingkungannya, menciptakan rasa aman, serta menciptakan rasa optimistik atas hal-hal baru yang akan ditemui oleh anak. Sementara itu, pengasuhan sosial bertujuan agar anak tidak merasa terasing dari lingkungan sosialnya yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa selanjutnya. Pengasuhan sosial ini menjadi sangat penting karena hubungan sosial yang dibangun dalam pengasuhan akan membentuk sudut pandang terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Pengasuhan sosial yang baik berfokus pada memberikan bantuan kepada anak untuk dapat terintegrasi dengan baik di lingkungan rumah maupun sekolahnya dan membantu mengajarkan anak akan tanggung jawab sosial yang harus diembannya (Hughoghi, 2004).

Beberapa definisi tentang pengasuhan tersebut menunjukkan bahwa konsep pengasuhan mencakup beberapa pengertian pokok, antara lain: (i) pengasuhan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, baik secara fisik, mental, maupun sosial, (ii) pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang terus menerus  antara orang tua dengan anak,

(iii) pengasuhan adalah sebuah proses sosialisasi, (iv) sebagai sebuah proses interaksi dan sosialisasi, proses pengasuhan tidak bisa dilepaskan dari sosial budaya dimana anak dibesarkan.

Pola asuh anak juga akan mempengaruhi Self Esteem atau harga dirinya di kemudian hari. Self Esteem adalah penilaian seseorang terhadap dirinya yang berkembang dari feeling of belonging (perasaan diterima oleh kelompok sosialnya), feeling competent (perasaan efisien, produktif), dan feeling worthwhile (perasaan berharga, cantik, pandai, baik) (Felker, 1998). Jadi Harga diri seseorang bisa dikatakan baik apabila ia merasa diterima oleh kelompok sosialnya, merasa mampu, dan merasa berharga. Anak perlu diajarkan untuk memiliki self confidence (rasa percaya diri) yaitu mempunyai perasaan yang teguh pada pendiriannya, tabah apabila menghadapi masalah, kreatif dalam mencari jalan keluar, dan ambisi dalam mencapai sesuatu.  Ia juga perlu diajarkan untuk mempunyai self respect (hormat pada diri sendiri), yaitu mempunyai perasaan yang konstruktif, hormat pada orang lain, dan bersyukur pada apa yang dimilikinya.

Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:

1. Pola asuh Demokratis

2. Pola asuh Otoriter

3. Pola asuh Permisif

4. Pola asuh Penelantar.

Pola asuh Demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

Pola asuh otoriter sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.

Pola asuh Permisif atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun, orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat sehingga seringkali disukai oleh anak.

Pola asuh tipe yang terakhir adalah tipe Penelantar (neglected). Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.

Karakteristik-karakteristik Anak dalam kaitannya dengan pola asuh orang tua.

Karakteristik-karakteristik anak dengan pola-pola asuh tersebut di atas adalah:

1. Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.

2. Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas, dan menarik diri.

3. Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.

4. Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

Tentang Jurnal

Makalah ini menguji pendapat yang menyatakan bahwa ciri-ciri lingkungan keluarga yang bergaya kekuasaan, otoriter, dan serba membolehkan nampak berkaitan dengan sikap melindungi, menghindari, dan berprasangka. Penelitian dilakukan terhadap 56 orang siswa relawan. Hasilnya menunjukkan walaupun 92% siswa hidup di lingkungan keluarga yang otoriter juga tertutup namun sikap kasih sayang lah yang memberikan kerukunan.

Ainsworth (1964) membagi sikap kasih sayang kepada tiga tipe; yaitu: melindungi, menghindari, dan berprasangka. Karakteristik ini dimiliki oleh para ibu terhadap anaknya dan reaksi anak terhadap ibunya.

Pola kasih sayang mempengaruhi perkembangan anak menuju dewasa.

Anak yang hidup dalam keluarga yang otoriter cenderung dilanda rasa cemas, pemarah, agresif, dan tidak punya harga diri.( Baumrind, 1967;1971). Pada kesempatan lain, Elicker, Englund, dan Sroufe (1992) menggambarkan bahwa anak-anak avoidant sebagai pemarah, agresif, terisolir, dan tidak disukai teman sebayanya.

Baumrind (1967) melanjutkan bahwa anak-anak dari keluarga permissive mempunyai kontrol diri yang rendah, kurang percaya diri, dan tidak dewasa sedangkan anak-anak ambivalenty digambarkan sebagai dilanda rasa cemas, tidak dewasa (Karen, 1998) dan terlihat kurang inisiatif (Egeland & Farber, 1984). Akhirnya, diprediksi bahwa perilaku keluarga yang otoriter akan dibarengi dengan sikap tertutup daripada dengan perilaku permissive.

Metode Penelitian

Peserta

Metode penelitian tersebut dilakukan dengan jumlah peserta sebanyak 56 relawan mahasiswa dari Universitas Appalachia yang terdiri dari 19 pria dan 34 wanita. Pada peserta berumur antara 18 hingga 22 tahun.

Material dan Prosedur

Peserta diminta menjawab kuisioner yang memuat informasi tentang: gender, status hubungan dan riwayat perkawinan orang tua serta persepsi tentang kasih sayang orang tua. Peserta melengkapi kuisioner dalam kelompok yang tidak lebih dari 15 orang. Waktu penyelesaian lebih kurang 15 menit.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok dari ketiga perilaku orang tua. Perilaku authoritative mempunyai skor yang lebih tinggi daripada authoritarian ataupun permissive. Ada 70% peserta dari keluarga authoritative yang bersifat tertutup, hanya 12,5% dari keluarga authoritarian yang bersifat tertutup, dan 0% dari keluarga permissive. Akhirnya, jelaslah bahwa perilaku orang tua mempengaruhi sikap kasih sayang anak dengan korelasi 0,56.

Diskusi

Hasil analisis menunjukkan bahwa orang-orang dengan keluarga authoritative memperoleh skor tinggi pada variabel: kehangatan, rasa aman, dan kemandirian kesehatan yang diprediksi dengan kerukunan dalam keluarga. Namun demikian, mereka tidak lebih rukun daripada orang dalam keluarga authoritarian atau permissive. Hipotesis tidak menegaskan kaitan proposal perilaku orang tua dan takaran kasih sayang merupakan bentuk yang sama.

Comments are closed.